Pena Ajaib Rena
Rabu, 25 Juli 2012 | 05.39 | 0 Ask
Ini juga di ambil www.bobo.kidnesia.com. Siapa lagi ygmengeposkan kl bukan aku!! yaitu.......(xxxxx) Pasti kalian sudah tau kan!!! ^_^ Langsung ke ceritnya, yuk!Rania punya pena ajaib. Begitu kata teman-teman Rania. Pena berwarna biru dengan model tongkat bidadari itulah yang dianggap pena ajaib.
Bagaimana tidak, Rania yang dulu pemalas dan nilai ulangannya jelekkini berubah. Rania menjadi anak yang rajin. Selain itu nilai ulangan Rania selalu diatas 7. Hal itu membuat teman-teman Rania semakin penasaran.
“Rania kasih tau dong, dimana sih kamu beli pena ajaib itu?” tanya Kesya, si Kaya yang sombong dan pembohong.
“Kesya, ini bukan pena ajaib. Ini hanya pena biasa pemberian nenekku.” Jawab Rania.
“Berarti nenekmu penyihir!” tuduh Kesya sembarangan.
“Kesya, tarik ucapanmu. Nenekku bukan penyihir.” Bela Rania, ia tidak terima neneknya dituduh penyihir.
Mendengar pembelaan Rania, Kesya semakin bersemangat untuk menuduh Rania yang tidak-tidak.
“Hey temen-temen,, kalian tahu nggak, neneknya Rania itu penyihir lho!” Kesya berkacak pinggang di depan kelas.
“Wah, berarti kita selama ini sekelas sama cucu penyihir dong. Ih,, takut…” kata Tamara.
“Iya, nanti kita disihir jadi kodok lagi” timpal Debby.
“Bener tuh, apa yang dibilang Debby, berarti mulai sekarang kita jauhi cucu penyihir itu ya..” Kesya memprovokatori teman-temannya.
“Teman-teman, jangan percaya dulu. Kesya kan tukang bohong,,” tukas Brian, anak yang pernah dibohongi oleh Kesya.
“Lho, kok kamu malah belain cucu penyihir itu sih, kamu kan juga menginginkan pena ajaib itu” Kesya menjadi sewot.
“Memang, tapi untuk mendapatkan pena ajaib itu, kita tidak perlu menuduh Rania yang tidak-tidak kan” Brian kukuh padapendiriannya.
“Sudah, jangan bertengkar. Lebih baik kita tanya saja sama Rania.” Usul Silviya.
“Oke!” Kesya menyanggupi. Ia berjalan lagi menuju meja Rania.
“Hey, cucu penyihir, dimana kamu membeli pena ajaib?”tanya Kesya untuk yang kedua kalinya.
“Aku tidak membeli, pena ini pemberian nenekku” jawab Rania apa adanya.
“Tuh kan, dia bilang sendiri kalau pena itu pemberian neneknya. Berarti, neneknya Rania penyihir dong! Kan bisa membuat pena ajaib” Kesya meyakinkan tuduhannya dan semua teman mempercayainya.
***
Rania mengeluarkan semua isi tempat pensilnya. Pena itu tak ia temukan. Kemudian Rania mengobrak-abrik tasnya. Namun pena itu tetap tak ditemukan. Pasti ada seseorang yang mencuri penaku,, gumam Rania.
Hari ini Rania tidak bersemangat. Ia merasa ada yang kurang dari dirinya. Ya, semenjak pena ajaib itu hilang, Rania jadi malas-malasan lagi dan itu membuat nilai ulangan Rania menjadi turun.
Rania jadi terpengaruh ucapan teman-temannya tentang pena ajaib itu. Mungkin, pena itu memang pena ajaib. Akhirnya, Rania memutuskan untuk berkunjung ke rumah nenek sepulang sekolah nanti.
“Nek, boleh Rania tanya sesuatu?” tanya Rania saat di rumah nenek.
“Ya, tanyakan saja. Tapi sebelum kamu bertanya, Nenek mau tanya dulu. Kata Mamamu, nilai ulanganmu turun. Kenapa?”
“Itu masalahnya Nek,,” Rania menundukkan wajahnya.
“Coba ceritakan” Nenek mengelus rambut Rania yang kecokelatan.
“Nek, Nenek tau kan, pena yang pernah Nenek kasih sama Rania?” tanya Rania.
“Ya. Nenek ingat kok. Memangnya ada apa dengan pena itu?”
“Itu pena ajaib Nek”
“Pena ajaib? Tidak ada pena ajaib Rania, kamu jangan mengada-ada.” Nenek tersenyum mendengar ucapan sang cucu.
“Nek, dengerin Rania dulu. Semenjak Rania punya pena itu, nilai ulangan Rania selalu bagus. Temen-temen Rania juga bilang begitu dan mereka menyangka nenek itu penyihir karena bisa membuat pena ajaib” cerita Rania.
“Lalu?” Nenek penasaran dengan cerita Rania.
“Awalnya Rania juga nggak percaya bahwa itu pena ajaib, tapi pena ajaib itu hilang, nilai ulangan Rania menurun nek,,” Rania mengakhiri ceritanya.
“Ini yang kamu maksud dengan pena ajaib?” Nenek menunjukkan pena itu.
“Iya Nek. Wah, ternyata Nenek masih menyimpan satu pena ajaib” sorak Rania. “Untuk Rania saja ya Nek?”
“Ya,, ya,, tunggu sebentar ya..” Nenek masuk ke dalam kamar dan kembali dengan membawa kotak berukuran sedang.
Rania membuka kotak itu, dan Taraaaa… ada 10 Pena ajaib.
“Waa,, ternyata Nenek memang penyihir ya?”
“Rania, Nenek bukan penyihir. Nenek membeli pena ini di toko yang hampir bangkrut. Dan ini bukan pena ajaib. Ini pena biasa. Tidak ada pena ajaib. Nilai ulanganmu bagus karena kamu rajin belajar, bukan karena pena ajaib ini” jelas Nenek.
“Hm,, iya deh Nek. Rania bakal rajin belajar. Tentunya dengan pena ajaib ini. Hihi” Rania terkikik geli. Ia membayangkan jika teman-temannya tahu bahwa Rania masih menyimpan 10 pena ajaib lagi.
TAMAT
Label: Story


