Misteri Suara Biola
Minggu, 22 Juli 2012 | 01.21 | 0 Ask
Cerita ini jga dari www.bobo.kidnesia.com. Siapa lagi yang mengeposkan kalau bukan aku, yaitu ZALFA!!! (Zalfa bnyk bgt sih mengeposkannya?? Aurel ga kebagian nie!! -_-" hahahaha kidding) Yuk, langsung ke ceritanya!!'Ih, Kamu tau enggak, Do!'' seruku.
''Tau apa?'' tanya Edo penasaran.
''Rumah kosong di samping rumahku itu!'' balasku. Edo masih terus memandangiku.
''Sejak minggu lalu, setiap jam 5 sore, selalu terdengar suara biola, Do!'' seruku.
''Wah.. Kamu tau kan, Ke, kalo pemilik rumah itu dulu pemain biola terkenal?'' Dera mulai angkat bicara.
''Iya, aku tau Der! Tapi masalahnya, pemilik rumah itu sudah meninggal! Suara biola dari mana?'' ucapku.
''Harus diselidiki nih,!'' seru Edo.
''Oke, pulang sekolah, kumpul di lapangan basket, ya?''
''Oke!''
***
''Teng..teng..'' bel sekolah sudah berbunyi, tepat pukul 14.00. Aku, Edo dan Dera berkumpul di lapangan basket di dekat rumahku.
''Kalian bawa apa aja?'' tanya Dera.
''Aku bawa senter aja..'' balas Edo.
''Keo?''
''Senter aja..'' ucapku sambil mengeluarkan senter dari tasku.
''Ayo berangkat!'' seru Edo.
''Ehh, masih jam 14.30, Do!'' Aku menarik tangan Edo.
''Hmm.. Iya mau ngapain nih?'' ucap Dera sambil melihat jam tangannya.
''Main kerumah Mila?'' ucap Edo tiba-tiba. "Hmmm.. Mungkin lebih bagus kalau berempat?"
''Ayo!'' jawabku dan Dera serempak. Kami bertiga segera mengayuh sepeda kami kerumah Mila yang tak jauh dari rumahku.
''Mila, Mila!'' Aku mengetuk pintu rumah Mila.
''Eh, Iya!!'' seru Mila dari dalam. Ia membukakan pintu untuk kami bertiga.
''Ayo, masuk..'' Mila mempersilahkan kami masuk.
''Ada apa, nih?'' tanya Mila. Aku menjelaskan tentang suara biola di rumah kosong di samping rumahku. Kami mengobrol begitu asyik.
***
''Ayo, berangkat!'' seru Dera. Jam tangannya menunjukkan pukul 16.30. Kami berempat segera berangkat menuju rumah tua di samping rumahku itu.
''Buka, Mil..'' ucap Dera. Mila segera membuka pagar rumah tua itu.
''Yuk, masuk!'' seru Mila. Halaman rumah tua sangat luas dan di tumbuhi ilalang.
''Uh, capek! Halamannya luas banget!'' seru Edo.
''Hhh..hh.. Iya capek..'' Dera menduduki bangku taman yang sudah berkarat.
''Ayo!! Sudah jam 16.45! Tinggal 15 menit lagi!'' seruku. Mila, Edo dan Dera kembali berjalan.
''Nniiiiettt..'' decitan pintu rumah tua itu sungguh menakutkan.
''Ayo, masuk..'' ucap Edo setengah berbisik.
''Ah! Sudah jam 5!'' seru Dera. Alunan nada-nada lagu mulai menari dengan indahnya. Kami berempat mengikuti asal suara itu. Kami terhenti di depan sebuah pintu kayu. Dengan takut-takut, Aku membuka pintu itu, dan..
''AAAAAHHHHH!!!!''
''Eh!! Jangan teriak dulu!! Aku Siro!!'' Aku berhenti berteriak. Ku lihat wajah orang itu. Benar, dia Siro! Adik kelasku.
''Kamu ngapain di sini?'' tanyaku.
''Belajar biola, kak!'' balas Siro.
''Kenapa belajar disini?'' tanya Mila.
''Iya, kan bisa di tempat lain? Kenapa di rumah kosong?'' sambung Edo.
''Soalnya, pemilik rumah ini yang ngajarin aku, kak!'' balas Siro. Aku, Dera, Edo dan Mila berpandangan bingung.
''Pemilik rumah ini?''
''Iya, itu, fotonya! Dia pemain biola terkenal, lo!'' seru Siro sambil menunjuk kearah foto pemilik rumah.
''Itu kan... Pemilik rumah yang udah meninggal..''
''Hh.......''
''KAAAABBBBUUURRRR!!!!!''
Label: Story


